Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa
yang kita inginkan.
Sebaris kata
ini mungkin terlihat sepele jika dilihat dari bagaimana aku menemukannya. Namun
terlihat begitu dalam maknanya jika kita melihat bagaimana isi nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya. Dalam sebaris kalimat yang tertera dalam koran bekas terselip
penyadaran yang membuatku tersadar bahwa selama ini mungkin yang aku butuhkan
adalah sebuah rasa syukur, rasa terima kasih yang terkadang sering aku lupakan,
terlena oleh kenikmatan yang aku terima selama ini.
Berkali-kali aku
mengejar segala keinginanku tentang ini-itu namun hasilnya tetap sama juga,
terulang kali terbentur dengan yang namanya penolakan dan kegagalan. Namun
terulang kali pula aku tidak pernah sadar apa yang sudah
aku terima dari semua penolakan ini, semua kegagalan ini. Barang kali aku
terlena akan kilau permata dunia yang sesungguhnya tak begitu aku butuhkan,
sampai-sampai aku tak sadar tentang apa yang aku butuhkan saat ini. Untuk
kesekian kalinya Tuhan masih juga bersabar dan terus bersabar melihat tingkah
polahku yang begitu urakan dalam menyikapi semuanya. Bertingkah layaknya
jagoan, bertingkah layaknya langit yang sampai-sampai tak pernah menyadari
bahwa masih ada langit di atas langit. Semua karunia, semua rejeki, semua
pemenuhan kebutuhan dianggap masih sangat kurang oleh anak ingusan ini.
