Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Wednesday, August 5, 2015

Mungkin Aku Butuh Piknik

Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Sebaris kata ini mungkin terlihat sepele jika dilihat dari bagaimana aku menemukannya. Namun terlihat begitu dalam maknanya jika kita melihat bagaimana isi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam sebaris kalimat yang tertera dalam koran bekas terselip penyadaran yang membuatku tersadar bahwa selama ini mungkin yang aku butuhkan adalah sebuah rasa syukur, rasa terima kasih yang terkadang sering aku lupakan, terlena oleh kenikmatan yang aku terima selama ini.

Berkali-kali aku mengejar segala keinginanku tentang ini-itu namun hasilnya tetap sama juga, terulang kali terbentur dengan yang namanya penolakan dan kegagalan. Namun terulang kali pula aku tidak pernah sadar apa yang sudah aku terima dari semua penolakan ini, semua kegagalan ini. Barang kali aku terlena akan kilau permata dunia yang sesungguhnya tak begitu aku butuhkan, sampai-sampai aku tak sadar tentang apa yang aku butuhkan saat ini. Untuk kesekian kalinya Tuhan masih juga bersabar dan terus bersabar melihat tingkah polahku yang begitu urakan dalam menyikapi semuanya. Bertingkah layaknya jagoan, bertingkah layaknya langit yang sampai-sampai tak pernah menyadari bahwa masih ada langit di atas langit. Semua karunia, semua rejeki, semua pemenuhan kebutuhan dianggap masih sangat kurang oleh anak ingusan ini.


Read More

Friday, July 31, 2015

Entah

Entah sudah berapa lama aku berhenti untuk menulis? Entah sudah berapa lama aku tak menyentuh lembar putih yang aku sebut kertas? Entah sudah berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk memikirkan sesuatu yang tak ada habisnya? Entah sudah berapa banyak lembaran mimpi yang aku bakar dengan mimpi yang baru? Entah berapa banyak umpatan yang aku keluarkan untuk mengenyahkan segala praduga-praduga yang aku ciptakan sendiri? Entah sudah berapa lama mimpi kecilku tergantung begitu saja di pojokan kamar tanpa aku sentuh, tanpa aku lirik, tanpa aku kejar? Entah sudah berapa lama, aku pun tidak tahu.

Read More

Sunday, July 12, 2015

Aku Ingin Bercerita

Aku ingin bercerita tanpa menjadi orang pintar terlebih dahulu. Aku ingin bercerita tanpa menjadi orang bijaksana seperti dahulu. Aku ingin bercerita dengan segala kebodohanku, dengan segala kedunguanku tentang pernik kehidupan. Pernik kehidupan yang dijungkirbalikkan oleh mereka, mereka yang menganggap dirinya lebih tahu, lebih pengalaman. Kalau saja berpamer menjadikannya mereka seperti raja, lalu aku ini apa?! Kalau saja aku lebih paham dan lebih mengerti dibanding mereka, layakkah aku menjadikannya seorang raja? Raja di antara para raja. Lalu apa gunanya semua itu, jika tak lain hanya sekedar kepuasan nafsu.

Aku ingin bercerita lewat tubuh ini, tanpa menjadikannya seperti daun kering yang mengalir di antara sela batuan kali. Aku ingin bercerita dengan apa adanya, tanpa melebihkan apalagi melawan arus kehidupan. Ku utarakan ceritaku dengan lidah dan mulutku yang barangkali tak terlalu banyak berkata bijak. Bercerita tentang betapa kerdilnya jiwa mereka yang menganggap dirinya agung, sok berpengalaman, dan sok mengerti soal kehidupan. Aku tak mengerti kenapa mereka lebih banyak berbicara yang tak perlu, mengumbar sesuatu yang tak ingin semesta dengar. Aku tak tahu.

Read More

Monday, July 6, 2015

Tulisan Kemarin Malam

Masih ada saja yang terjaga di malam yang semakin malam, yang tersisa hanya desiran angin dan gemerisik sayup bunyi ranting di kejauhan. Terdengar sengal nafas tak beraturan dari sosok yang berlarian dikejar bayang. Bayang-bayang mentari pagi yang terus mengejarnya. Menjadikannya tampak nyata dan menjadikannya debu seketika. Ah sekiranya hantu pun berlarian tatkala melihat dirinya. Sekiranya aku ini apa ? Ah aku cuma nisan tua di tengah hutan, menanti sang empunya pulang meski pagi sudah hampir datang menjelang.

Akan aku katakan apa yang harus aku katakan. Tanpa hentakan, tanpa paksaan, semua hanya soal kerelaan. Kerelaan untuk mengatakan yang sebenarnya, tanpa tersirat ataupun tersurat pengaruh kuasa. Menjadikannya kebal menjadikannya kebas, tanpa pernah merasa akan siksa yang menantinya. Tatkala mulut terucap perlahan kebebasan pun seolah terhisap masuk dalam setiap dengung suaranya. Suara yang menuntut pembebasan, suara yang menuntut pembenaran.

Read More

Monday, June 29, 2015

Tulisan Tanpa Makna

Apa yang tersisa dari sebuah khayalan masa kecil? Hanya sekerlip kenangan lama yang enggan beranjak pergi, menganeksasi setiap sudut pikiran. Menipu logika, menciptakan pola, menikam rasa cinta. Hanya ambisi yang tersisa, ambisi yang membuatnya tega melakukan segala usaha untuk menggapai bayangannya. Bayangan akan khayalan masa kecilnya.

Seorang anak bertanya kepada alam semesta, apa sebaiknya yang kulakukan, dengan tak ragu-ragu alam menjawab cintailah dirimu. Tetapi ketika anak itu tersenyum alam membentak, tetapi bukan itu maksudku. Lihatlah segala perbuatanmu yang tidak pantas untuk ciptaan tuhan, dan pangkas sekarang juga. ~ Mencintai Diri, Putu Wijaya.

Read More

Friday, June 12, 2015

Hari Yang Kemarin

Dalam setiap perputaran waktu akan datang masa dimana kita bergembira dan melepaskan beban. Melepas lepas, mengejang, lalu terkulai lemas. Masih teringat dengan jelas tentang hari kemarin yang mana setiap penantian pasti akan berakhir juga. Penantian akan momen bergembira dan berfoto bersama toga dan sejenisnya. Berfoto bersama, bergembira bersama, berteriak lantang lepas lalu sekejap tercetak dalam lensa kamera. Momen wisuda yang begitu ditunggu oleh saya, oleh mereka, oleh kedua orang tua, dan oleh para semua mahasiswa. Dan kemarin, adalah giliran saya untuk menikmatinya. Menikmati wisuda, menikmati kebebasan yang saya pahami dengan jelas bahwa itu hanyalah kebebasan yang sementara. Tapi, tetap saja saya bersyukur bahwasanya saya telah menjadi seorang sarjana, sarjana muda, calon pencari kerja.



Hari yang kemarin biarlah menjadi yang kemarin, yang telah lalu dan melebur bersama waktu. Biarkan hari yang kemarin menjadi momen yang mengkristal dalam setiap keping-keping ingatan yang bersemai menjadi sebuah helaian-helaian kenangan yang nantinya akan terbuka ulang, terbuka lebar, terbuka lapang. Hari yang kemarin biarlah menjadi yang kemarin, layaknya kepingan puzzle yang satu persatu dikumpulkan untuk menghadapi masa yang akan datang. Masa pencarian, masa perjuangan.

Read More

Saturday, June 6, 2015

Surat Untuk Bapak Menpora

Kepada yang terhormat, Bapak Menpora.

Saya sebagai pecinta sepak bola Timnas Indonesia sejujurnya sangat kecewa dengan adanya surat pembekuanPSSI dari FIFA. Surat pembekuan yang melarang Timnas kita untuk bermain sepak bola di kancah internasional, serta tak memperbolehkan PSSI untuk menggulirkan kompetisi dalam negeri. Surat pembekuan dari FIFA yang datang karena adanya campur tangan pihak-pihak yang kami sebut itu pemerintah. Padahal sudah jelas adanya aturan dari FIFA yang mana PSSI haruslah bergerak independen tanpa campur tangan pemerintah, karena sanksinya apabila melanggarnya adalah sudah jelas, Pembekuan. Namun, bapak ternyata melanggarnya.

Seperti yang saya kutip dari Pandit Football, Sebagaimana hukuman yang berlaku segera, pencabutan hukuman pun dapat dilakukan dengan segera. Selama, tentu saja, PSSI mampu memenuhi empat ketentuan pencabutan hukuman yang ditentukan FIFA. Ketentuan pertama dari empat ketentuan tersebut adalah: Komite Eksekutif PSSI terpilih dapat mengelola perkara PSSI secara mandiri dan tanpa pengaruh dari pihak ketiga, termasuk kementerian (atau badan kementerian)Ketentuan kedua berisi pengembalian kewenangan terhadap tim nasional Indonesia kepada PSSI: Tanggung jawab mengenai tim nasional Indonesa kembali menjadi kewenangan PSSISeperti ketentuan kedua, ketentuan ketiga dan keempat juga berisi pengembalian kewenangan kepada PSSI (“tanggung jawab mengenai semua kejuaraan PSSI kembali menjadi kewenangan PSSI atau liga yang dibawahinya” dan “semua kesebelasan yang berlisensi PSSI di bawah regulasi lisensi kesebelasan PSSI dapat berkompetisi di kejuaraan PSSI”).
Read More