Menulislah, Seolah-olah Besok Kamu akan Melupakannya

Sunday, August 2, 2020

Tulisan Tengah Malam

Sudah lewat berhari-hari, sejak terakhir kali aku menulis di lembar ini. Lembar kosong yang tetap dibiarkan kosong. Banyak peristiwa yang terjadi, banyak cerita yang terlewati, banyak sekali alasan yang dijadikan alibi dibalik terhentinya produksi karya. Karya yang tersusun dari kata, kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang bermula pada sebuah tanya, lalu merunut menjadi sebuah jawaban, yang kemudian menjadi sebuah cerita. Cerita yang diceritakan oleh Sastra Ananta. Namun, semua hanyalah sebatas angan saja, yang terjadi kenyataannya adalah tiap kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang sempat ingin dituliskan, semuanya ditelan kembali. Semuanya tidak jadi dimuntahkan karena berbagai macam alasan, salah satunya ialah alasan itu sendiri. Alibi.

Terakhir kali aku menulis itu di waktu hari raya, dengan tema Virus Corona. Di Hari Raya, tulisan itu timbul ke permukaan. Timbul sebagai penanda, penanda bahwa Sastra Ananta masih ada. Bagaikan penanda gabus yang terapung di permukaan air sebagai penanda jaring yang terbentang di bawah permukaan. Banyak sampah yang tersangkut jaring, tidak hanya persoalan hidup saja, namun juga persoalan lainnya, termasuk persoalan yang ditimbulkan oleh Virus Corona.

Read More

Wednesday, May 27, 2020

Happy Ied Mubarak

Corona, Corona, Corona. Covid-19. Quarantine. Lockdown. Work from home. Blablabla. Vaccine doesn't exist. WHO. Bill Gates. Jerinx. Elite Conspiracy. Blablabla Corona still exist. Oh god!

Now, I'm questioning myself if I'm starting to like quarantine days. Why do I feel little bit sad.

I Shouldn't by the way, quarantine days is gonna end soon. It means all of this suffer is gonna end soon as well. It's because, I've heard that on June 2, School will start normally. It means, things will go as It did.

Everything gonna be okay. I hope so.

I'm starting to like "The New Normal". But, life has a funny way. It happens everytime. Because, when I'm starting to like something, then It disappears. Again and again.

How sad?!
Well, that's how life works, doesn't It?

At least, this pandemic gives me more a little time to contemplate everything that I've been through. As a (half) introvert I've already felt more relaxed than ever. Insha Allah, after it ends, I'll feel recharged. 

Wish you guys always well.

Happy Ied Mubarak.

Everything is gonna end soon as well.
Everything is gonna be okay.

Insha Allah.

Karawang, Work from home.
Anggia Kusumargani Sidik.
Read More

Saturday, May 2, 2020

Mencoba Menulis Kembali

Lantas apa lagi yang mesti kutulis, jika segalanya hilang dan tak terbaca
Kenangan lamat-lamat memudar, harapan hari esok hanya mimpi-mimpi mencekam
Sekali waktu, besok, lusa atau hari yang tak mengenal musim
Aku mungkin hanya bisa mengenangmu, hanya bisa mengenangmu.
(Nissa Rengganis, Tentang Mata dan Sebuah Kota Tak Bernama)

Lantas apa yang harus aku tulis? Jika rasa dan kata perlahan memudar, lalu lenyap dalam ketiadaan. Tiada lagi yang tersisa, selain abu dan remahan kalimat yang berserakan di dalam kepala. Hujan tidak mengenal musim, di dalam kepalaku, ia bisa menciptakan banjir bandang yang menghanyutkan segalanya, termasuk aku beserta kata demi kata, yang tidak sempat dituliskan oleh aku, dan menjadikannya niscaya lalu lenyap dalam ketiadaan yang nyata.
          Sepanjang malam, aku dan pikiranku saling berdialog, berdiskusi perihal segalanya, perihal semua kata-kata yang sudah dibebaskan, dan berbagai macam upaya yang akan dilakukan untuk menjemput lagi semuanya. Mengantarnya kembali kepada aku yang kini sedang berusaha mengingat lagi perihal caranya merangkai kata demi kata, kalimat tiap kalimat. Dan, semuanya dimulai tanpa aku sadari...

Read More

Monday, April 20, 2020

Hidup Memang Dongeng

Hidup memang dongeng. Tidakkah kau tahu itu?

Dulu sewaktu kecil, memiliki mimpi menjadi Pegawai Bank merupakan sebuah mimpi yang penuh anomali. Anomali karena sebagian besar anak-anak seusiaku dulu memimpikan jika sudah besar ingin menjadi seorang Tentara, Polisi, Guru, Dokter, atau bahkan Bintang Film. Tidak ada yang salah dengan cita-cita mereka, hanya saja ketika ditanya mengapa aku memiliki cita-cita untuk menjadi Pegawai Bank ketika besar nanti, alasanku sungguh sederhana. Karena menjadi Pegawai Bank, merupakan pekerjaan yang keren, berseragam rapi, bekerja di tempat ber-AC, dan yang terpenting alasan terakhir karena menjadi Pegawai Bank setiap harinya bekerja dengan banyak uang. Sungguh alasan yang matrealis betul.
Ku tempuh pendidikan formal selama dua belas tahun, plus empat tahun plus ekstra ketika kuliah, Mimpi itu tetap aku pegang erat-erat meskipun setiap tahun persentase besaran keyakinan akan mimpi itu semakin surut saja. Apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa semakin banyak pilihan yang ditawarkan di masa kuliah, membuat Pegawai Bank menjadi pilihan terakhir. Pilihan pertama jatuh kepada jajaran pekerjaan berseragam, seperti Polisi, Tentara, Pegawai Negeri Sipil, dan Anggota Dewan. Terkadang memang benar, hidup itu penuh ironi, sekaligus penuh elegi.
Read More

Tuesday, March 10, 2020

Dari Satu Bagian


Cuaca siang yang panas tidak menyurutkan semangat banyak orang untuk tetap berbaris di tengah lapangan. Seorang Bapak Tua dengan peci hitam di kepalanya sedang berbicara, entah beliau sedang membicarakan apa, yang pasti suara kencang toa di depannya begitu menganggu telinga. Suara dengingannya lama kelamaan semakin kurang ajar saja. Mungkin sebentar lagi telinga kiri minta undur diri. Beruntung sebelum surat pengunduran diri dituliskan, telinga kanan tiba-tiba mendengar suara merdu. Suara merdu seorang wanita, tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku melihat sekitar, dan aku menemukan sumber suara. Dengan kemeja putih dan rok hitam, dia berdiri satu barisan denganku. Namanya Dewi Anjani. Sama seperti aku, dia juga mahasiswa baru.
Read More

Monday, December 9, 2019

Cerita Bima Sakti


(Sastra Ananta)
Duduk di samping jendela, melihat mereka bermain bebas. Menari kesana kemari, di bawah guyuran hujan, berlari riang, bermain air, tak peduli baju celana basah semuanya, tak peduli betapa repotnya nanti si bapak akan mencuci pakaiannya. Mereka kembar bersaudara. Semuanya bergembira, begitu juga aku yang melihat mereka dari balik kaca jendela.

Tidak jauh dari tempat dudukku, terlihat bapaknya yang mengawasi mereka dari balik jendela. Dia tersenyum saja melihat tingkah kedua anak kembarnya. Kembar bersaudara, Ardea Auriga dan Ardella Auriga, terlahir dengan jeda lima menit dengan Ardea sebagai yang pertama melihat dunia, begitu kata bapaknya. Sesekali dia melirik ke arah tempat dudukku, sembari geleng-geleng kepala dengan senyum di wajahnya, seolah meminta maaf kepadaku sekaligus mengharap pemakluman atas tingkah anak kembarnya. Dan, aku hanya tersenyum saja. Memakluminya.

Read More

Sunday, October 27, 2019

Karena Saya Adalah Saya

Sastra Ananta, adalah nama yang diberikan orang tua kepada saya, dan Sastra Ananta memiliki beberapa makna. Namun bagi mereka, nama adalah sebatas nama, tak peduli maknanya apa, meskipun banyak orang mencibir mereka perihal pilihannya, karena menurut mereka nama adalah doa. Apalagi jika menyangkut pemberian nama untuk anak, karena mereka menganggap pemberian itu menyangkut masa depan anak. Dan, Sastra Ananta menurut mereka itu tidak memiliki makna. Namun jawaban orang tua saya justru sederhana saja;

Lha wong kita sebagai orang tuanya biasa saja, kalian yang bukan siapa-siapa kok malah repot mengurusi soal nama anak kita? Tenang saja, Ada Tuhan di atas sana yang sudah mengatur semuanya. Kalian manusia lebih baik diam saja!

Dan, seketika mereka langsung terdiam mendengar jawaban orang tua saya.

Read More